Emosi Proaktif untuk Pribadi Sukses

Hati-hatilah dengan emosi yang keluar tak terkendali. Jika tak terkelola dengan baik, emosi bagai api dalam sekam yang tertiup angin kencang.

Tiba-tiba, menyebabkan kebakaran, memunculkan kerugian besar yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Kasusnya begitu jamak. Bisa dibaca di media massa. Lantaran dipicu oleh hal sederhana, orang bereaksi luar biasa dengan dampak yang tak disangka dan berujung penyesalan.

Belum lekang dari ingatan kita, Muhammad Iqbal, siswa SMU Negeri I Sungguminasa, Gowa, Sulawesi Selatan, tewas usai dianiaya gurunya. Perkaranya sangat sepele. Gara-gara tidak memperhatikan perintah. Iqbal yang disuruh mengambil bola basket dari gudang sekolah, justru membawa bola kaki. Kealpaan kecil cukup membuat guru olahraganya marah besar. Dengan tidak terkendali, dia mengambil batu dan melemparkannya ke kepala Iqbal sampai bocor. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, nyawa Iqbal sudah tak tertolong.

Tragedi Iqbal hanyalah salah satu contoh bejibun bagaimana orang dikuasai kemarahan dan membutakan akal sehatnya. Di rumah tangga, seorang suami tiba-tiba marah gara-gara sang istri tidak sempat menyiapkan sarapan pagi. Sang istri dipukul hingga sekarat. Atau contoh lain. Seorang kepala cabang sebuah bank tiba-tiba sangat marah ketika sebuah mobil dengan sengaja memotong jalan. Dikejarnya mobil itu lalu dimakinya si pengemudi mobil dengan kata-kata kasar. Namun, betapa kagetnya ketika dia sampai di tempat kerja ternyata orang yang telah dimakinya adalah salah satu nasabah bank yang dipimpinnya.

Tak Terkendali

Ketiga contoh tersebut mencerminkan betapa emosi yang tidak dikendalikan dan dipikir bisa berakibat buruk, jauh dari perkiraan. Inilah emosi reaktif. Emosi reaktif merupakan emosi tidak terkendali dan sering disesali belakangan karena respons secara spontan.

Emosi tersebut keluar begitu saja karena ada pencetus dari luar diri kita yang mengganggu. Emosi ini terekspresikan tanpa kendali. Seringkali emosi reaktif terjadi karena kebiasaan yang terbawa hingga dewasa. Hal itu banyak terkait dengan pengondisian yang kita terima dan dilakukan selama hidup.

Misalnya, ada orang yang sering menertawakan kita dan mudah memaki balik, saat anak menangis, kita langsung membentak; jalanan macet, panas dan berdebu, membuat kita gampang marah, tidak mendapat order bisnis, kita langsung jengkel. Sebenarnya, emosi reaktif awalnya banyak berhubungan dengan survival instinct sebagai mahluk hidup. Akan tetapi dengan berjalannya waktu, insting ini tidak lagi memadai.

Pola Emosi Reaktif

Hal ini kentara terjadi pada kasus seorang manajer yang menemukan kinerja bawahannya tidak beres (Situasi). Melihat kondisi tersebut, jengkel dan marahlah sang manajer. Dia stress dan kesal pada bawahannya (Perasaan). Lalu, tanpa kendali, sang manajer memaki bawahannya dengan kata-kata kasar (Tindakan).

Dalam pola emositersebut, terlihat hampir tidak ada filter. Akibatnya, tindakan maupun kata-kata yang menyertai perasaan itu tidak terkendali. Bahkan, tindakan yang sebenarnya tidak diharapkan sebelumnya muncul tiba-tiba. Biasanya, reaksi semacam ini berbuah penyesalan.

Nah, bagaimana cara mengelola emosi semacam ini agar lebih efektif? Mari kita bandingkan dengan pola emosi lain yang disebut dengan emosi proaktif. Istilah ’proaktif’ menjadi populer saat Stephen Covey melansir bukunya Seven Habits of Highly Effective People. Covey memandang proaktif sebagai salah satu kebiasaan manusia yang sangat efektif. Proaktif menggambarkan proses perantara dari stimulus menuju respons. Intinya, orang yang proaktif tidak dikendalikan spontan oleh stimulus di luar dirinya.

Orang sadar akan gejolak emosi di dalam diri, paham benar akibat emosi itu, punya kemampuan memilah-milah dan menentukan pilihan tindakan yang akan dilakukannya kemudian. Orang proaktif adalah orang yang mau dan mampu memahami stimulus dan lingkungnnya. Dengan kata lain, orang mampu mengendalikan dirinya sendiri dan bukan dikendalikan oleh lingkungannya.

(Lemahabang, www.myquran.com : 13 Maret 2007)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: