Bagaimana Pelajar atau Mahasiswa Mengelola Waktu ?

“ Sebaik-baik manusia adalah yang diberi umur panjang dan baik amalnya. Dan sejelek-jelek manusia adalah yang diberi umur panjang dan jelek amalnya. “ (HR. Ahmad)

Islam sangat menaruh perhatian terhadap waktu. Dalam Al-Qur’an, bertebaran ayat-ayat yang berhubungan dengan waktu. Bahkan, berkali-kali Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah atas nama waktu. Misalnya di awal QS. Al-Ashr [103], Al-Lail [93], Adh-Dhuha [93], dsb. Hal ini menandakan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia.

Mengingat pentingnya waktu, maka kita layak bertanya, sejauh mana komitmen kita terhadap waktu? Bila kita termasuk orang yang meremehkan waktu, tidak kecewa saat pertambahan waktu tidak menghasilkan peningkatan kualitas diri, maka bersiap-siaplah menjadi pecundang dalam hidup.

Efektivitas penggunaan waktu sangat dipengaruhi oleh keterampilan kita dalam membaginya. Ada hak belajar, hak tubuh, hak keluarga, hak ibadah juga hak evaluasi diri. Semuanya harus dibagi secara adil. Sibuk dan hebatnya belajar tanpa disertai istirahat dan ibadah misalnya, hanya akan mendatangkan masalah.

Mahasiswa yang akan mengikuti ujian misalnya. Waktunya tinggal tiga bulan lagi. Maka menjadi keharusan baginya untuk membuat perencanaan. Sehari belajar berapa jam? Katakanlah belajar dua jam. Seminggu mau berapa kali belajar? Enam kali. Berarti 12 jam perminggu atau 48 jam perbulan. Jadi, dalam tiga bulan ia harus belajar minimal 144 jam. Lalu, mata kuliahnya ada 10. Satu mata kuliah rata-rata lima bab dan satu bab sepuluh halaman, berarti 50×10=500 halaman. Sedangkan waktu yang dimiliki hanya 144 jam. Dengan demikian, dalam satu jam ia harus menguasai minimal tiga lembar.

Kuncinya, kita harus memetakan dulu potensi dan masalahnya. Lalu bergerak dengan acuan peta tersebut. Setelah itu kita disiplin menjalankannya, sebab banyak orang yang hanya pandai membuat rencana, tapi kurang pandai menjalankannya. Karena itu sebuah rencana perlu dibuat secara proporsional dan fleksibel agar kita mudah menjalankannya.

Kebiasaan menunda akan menghambat efektifitas dan optimalisasii waktu yang kita miliki. Dalam setiap waktu ada kewajiban yang harus kita tunaikan. Andaikan kita tunda maka pekerjaan lain pasti akan menyusul sehingga pekerjaan makin menumpuk. Akhirnya banyak energi, waktu dan biaya yang terbuang percuma selain berpeluang memunculkan rasa enggan untuk mengerjakannya.

Imam Hasan Al-Bashri berwasiat “Waspadalah kamu dari menunda pekerjaan, karena kamu berada pada hari ini bukan pada hari esok. Kalaulah esok hari menjadi milikmu, maka jadilah kamu seperti pada hari ini. Kalau esok tidak menjadi milikmu, niscaya kamu tidak akan menyesali apa yang telah berlalu dari harimu”

Yahya bin Hubairah, guru Ibnul Qayyim al-Jauziah berkata : ”Waktu adalah barang paling berharga untuk kau jaga. Menurutku, ia adalah barang yang mudah hilang darimu.”

Allah telah memberikan kesempatan kita hidup. Dengan kata lain kita telah diberikan sebentang waktu untuk merasakan segala kenikmatan hidup. Namun sering kita menyia-nyiakan waktu yang telah dianugrahkan oleh Allah kepada kita. Tidakkah kita takut saat Allah meminta pertanggungjawaban kepada kita ?

Mari kita isi waktu dengan kegiatan bermakna. Jurus jitu yang bisa kita lakukan ialah selalu bertanya pada diri sendiri saat melakukan suatu pekerjaan,

  1. Apa manfaatnya jika saya tidak melakukan hal ini ?
  2. Apakah yang dilakukan ini bernilai ibadah ?
  3. Apakah masih ada kegiatan yang lebih bermanfaat ?
  4. Apakah saya tidak berlebihan melakukan hal ini ?
  5. Apakah saya sudah efisien memanfaatkan waktu dalam mengerjakan hal ini ?

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran,” (QS.Al Ashr:1-3)

Imam Hasan Al-Banna pernah mengingatkan bahwa kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang kita miliki. Itu sudah hukum alam yang membawa hikmah kepada kita bahwa kita harus benar-benar mengoptimalkan waktu yang kita miliki. Kita harus pandai memilih kegiatan apa saja yang harus kita lakukan dan kegiatan mana yang bisa kita tinggalkan atau ditunda, meskipun semuanya baik. Kita tidak bisa melakukan semuanya.


Waktu adalah pahala

Jika orang lain mengatakan bahwa waktu adalah uang, kita sebagai Muslim menganggap bahwa waktu bukan hanya sekedar uang, tetapi waktu adalah pahala, waktu kita adalah hidup kita, sementara tujuan hidup manusia adalah untuk beribadat seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala pada Al-Qur’an :

” Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-ku.” (QS Adz-Dzariyat : 56)

Jadi jangan biarkan waktu kita dalam kekosongan,apalagi waktu kita diisi dengan kemaksiatan. Kekosongan waktu saja sudah merugikan kita karena kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pahala, apalagi jika waktu kita diisi oleh kemaksiatan.

Sedetik waktu terlewat, tidak akan pernah bisa kembali. Maka jangan sia-siakan waktu yang kita miliki. Pernahkah Anda mengenang waktu yang sudah lewat ? Tahunan waktu yang sudah lewat seperti hanya sebentar. Oleh sebab itu kita sering mendengar ungkapan ”seperti baru lahir

Oleh karena itu ada baiknya kita mengikuti apa yang dikatakan Ibnul Qayyim al-Jauziah :

”Orang yang berakal adalah tahu bahwa dunia ini tidah diciptakan hanya untuk mencari kesenangan di dalamnya; karenanya, dalam kondisi apapun ia harus konsisten dalam menggunakan waktu secara tepat.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: