Berserah Diri, Namun tetap berusaha

Ikhtiar dan tawakal merupakan 2 hal yang saling terkait. Dalam ikhtiar ada unsur pendalaman ide, penelitian dan analisa, pertimbangan yang matang, kerja keras, melakukan pengelolaan yang baik, meminimalisir kesalahan, menumbuhkan gerak yang sehat dengan dukungan mentalitas dan ruhani yang baik. Setelah itu, tawakkal dengan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Dalam tawakkal, kesiapan seseorang menerima berbagai keadaan setelah beruaha sebaik mungkin, ada dalam kata ridha. Ridha kepada apapun yang ditentukan Allah SWT. Semuanya mengarah pada puas atau kecewanay kita akan ketetapan dari Allah. Puas dan kecewa ibarat siang dan malam. Di satu sisi kepuasan memberikan kecerahan jiwa dan ketentraman hati serta secercah harapan sedangkan di sisi yang lain kekecewaan menimbulkan jiwa yang peka dsan hati yang gelisah serta kebuntuan pikiran. Bagi orang yang mampu menjaga kesabaran ketika rasa kecewa itu dan bersyukur tatkala kepuasan pun hadir serta senantiasa brtawakal kepada Rabbul ‘alamin mereka itulah yang termasuk kedalam orang-orang yang beruntung.

” Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka akan Allah jadikan baginya jalan keluar (dari kesulitan). Dan Allah akan beri dia rezeki dengan tiada terduga. Dan barangsiapa yang bertawakal (menyerahkan diri) kepada Allah, maka Allah akan mencukupkannya (memeliharanya)!” (QS. Ath-Thalaq : 2-3)

Contohnya saat kita melihat nilai hasil UAS, Keluarnya nilai ujian akhir semester yang terpampang di papan-papan pengumuman seolah menjadi suatu alat permainan yang mampu mengubah ekspresi wajah kita. Bagi kita yang memperoleh nilai baik akan menampilkan ekspresi wajah yang berseri-seri, sedangkan bagi mereka yang memperoleh nilai kecil (jelek) menunjukkan raut muka rasa kecewa bahkan sempat membuat mereka murung berhari-hari. Banyak diantara kita yang merasa tidak rela dengan hasil yang mereka peroleh atas usaha belajarnya dalam menghadapi ujian. Kita beranggapan bahwa hasil harus selalu berbanding lurus dengan usaha yang dilakukan, titik. Kadang kita kurang menyadari bahwa ada kekuatan lain yang berada dibalik semua aktivitas manusia, yang mengatur segala kehidupan di dunia ini, yaitu Allah SWT. Jika demikian halnya, maka itu berarti bahwa teman-teman masih mengalami kelemahan keyakinan terhadap Allah subhanallahu wa ta’ala.

Apabila ternyata nilai kurang memuaskan yang didapat, tentunya kita harus kembali membuka Kalamullah pada surat An-Nahl ayat 96 yang berbunyi,”Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” Atau kembali mengingat sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang isinya,”Tidaklah seseorang diberi karunia yng lebih baik dan lebih luas, selain dari kesabaran.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)

Sebagai seorang muslim, selayaknya kita mampu menyandarkan segala urusan hanya kepada Allah saja. Jika ternyata usaha yang dilakukan telah maksimal, namun perolehan hasil tidak sesuai dengan harapan, maka ia akan tetap tenang dan mampu menerima kenyataan tersebut tanpa penyesalan sedikit pun dan tetap berbaik sangka terhadap Yang Maha Pengatur.

Terkadang kita yang merasa telah maksimal mengusahakan perolehan nilai tersebut hanya semata untuk mendapatkan nilai itu saja. Kita lupa bahwa hidupnya di dunia ini adalah untuk beribadah kepada-Nya. Sehingga dalam berikhtiar pun kita tetap harus bertanya, “Apakah ikhtiar yang aku lakukan benar dalam pandangan Allah? Seperti apa cara ikhtiar yang benar dan bernilai ibadah?”

Jika dalam hati setiap muslim memiliki pertanyaan semacam itu niscaya tidak akan ada perbuatan yang ia lakukan bernilai sia-sia, karena ia akan mengerjakan sesuatu berdasarkan skala prioritas hamba yang taat kepada Tuhannya, yaitu mendahulukan yang wajib di atas yang sunnah, yang sunnah didahulukan di atas yang mubah, menghindari pekerjaan yang makruh dan menjauhi yang haram.

Seperti itulah kira-kira perilaku seorang muslim. Ia tidak melupakan yang fardhu , yaitu memposisikan segala aktifitsnya sebagai pengabdian kepada-Nya dan hanya mencari ridha-Nya semata. Bukan mencari ridha dunia bahkan menjadi hamba dunia. Ia mampu berusaha secara maksimal untuk akhiratnya tanpa melupakan dunia, karena ia yakin bahwa rizki dan ajal sudah ditentukan oleh Allah serta segala yang diperbuatnya harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Maka ia melakukan segala sesuatu dengan pertimbangan manfaat dan mudharatnya.

Selanjutnya dalam upaya meraih kemuliaan dunia, seperti meraih kekayaan yang banyak, kedudukan tinggi, ketenaran dan lain sebagainya, hendaknya dilakukan dengan usaha yang sungguh-sungguh dan senantiasa pasrah menyerahkan diri (tawakkal) kepada Allah, apapun hasil yang diperoleh. Tawakkal ialah benar dan lurusnya hati dalam menerima keputusan dan berpegang teguh pada Allah ‘Aza wa Jalla dalam mencari kemashlahatan dan kebaikan, menolak kemudharatan yang menyangkut urusan dunia maupun akhirat. Karena barangsiapa yang melaksanakan takwa dan tawakkal, maka telah cukuplah baginya meraih kemashlahatan dunia dan akhirat.

Dari Umar bin Khaththab ra, dari Nabi SAW, sabdanya: “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan membei rezeki kepada kalian sebagaimana burung-burung diberi rezki. Mereka terbang dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” (Riwayat Tarmidzi dalam Az-Zuhd). Imam Abu Hatim Ar-Razi ra. berkata: “Hadist ini merupakan pangkal tawakkal, dan tawakkal merupakan jalan yang paling besar untuk menarik rezki!”

Melaksanakan tawakkal tidaklah berarti meninggalkan ikhtiar (usaha) atau mengabaikan sebab-sebab yang telah ditetapkan Allah subhanallahu wa ta’ala, ataupun menentang sunnah-Nya dalam penciptaan, karena Allah telah memerintahkan kepada semua hamba-Nya untuk berikhtiar disamping bertawakkal. Jadi usaha atau ikhtiar mencari nilai yang baik atau sesuatu yang disenangi lainnya dengan memaksimalkan potensi adalah manifestasi ketaatan kepada Allah, sementara tawakkal dalam hati adalah iman kepada-Nya. Imam Sahl ra berkata :”Barangsiapa yang menentang ikhtiar berarti menentang sunnah, dan barangsiapoa menentang tawakkal berarti mencela iman.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: