Hidup adalah Sebuah Pilihan

UNAS (Ujian Nasional) SMA dan UAS (Ujian Akhir semester) ITS 2007 baru saja berlalu. Saat-saat perjuangan dimana seluruh ikhtiar kita kerahkan untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Tentang ikhtiar saat menghadapi ujian ini, teman kita ingin berbagi pengalamannya.

Sebut saja Ami, mahasiswa tingkat satu Institut Teknologi Sepuluh Nopember, selain sebagai akademisi, dia juga aktivis. Bercerita tentang perjuangannya menghadapi UAS, dia lebih memilih untuk mempersiapkan jauh hari sebelum hari H, katanya:”Ehm…saat aku membayangkan UAS aku bayangkan aku akan ikut dalam sebuah peperangan, jadinya kalau pengen menang dalam perang itu, ya aku harus susun strategi dulu, persiapan dulu, dan berserah diri pada Allah karena keputusan adalah Kuasa Allah. Berhasil atau gagal hasilnya, yang penting aku sudah berikhtiar dengan jalan yang benar, aku yakin keputusan Allah adalah keputusan yang terbaik buat aku”.

Berikhtiarlah, Jangan takut Gagal

Sebelum genderang perang ditabuh, aku akan berjuang terus untuk mendapatkan yang terbaik. Saat UAS tiba, disinilah kemampuan kita diuji, kadang pikiran ragu itu menyerang kita sehingga tidak percaya pada kemampuan kita dan cenderung bertanya pada ”tetangga sebelah”, membuka ”literatur”, atau menjalankan strategi kotor lainnya. Takut kalah atau gagal dalam perang sangatlah wajar, tapi ikhtiar yang “kotor” akan memberikan dampak negatif pada hasilnya. Mungkin bisa jadi hasilnya “baik” tapi itu hanya untuk jangka pendek dan tidak untuk jangka panjangnya. Ingat, baik dimata kita belum tentu baik di hadapan Allah, seperti dalam surah Al-Baqarah : 256, Allah berfirman, yang artinya:”….Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

Jadi jangan takut gagal selama kita berikhtiar di jalan yang benar, insya Allah kita akan memetik ”hasil” yang baik juga. Anggap saja kalau gagal berarti belum giliran kita untuk menang.

Sejarah telah mencatat bahwa tokoh-tokoh dunia juga pernah merasakan kegagalan. Thomas Alva Edison adalah penemu bola lampu yang pertama. Ketika sekolah di Port Huron, Michigan, gurunya mengeluh kalau Edison terlalu lamban menerima pelajaran dan sulit diatur. Oleh karena itu, ibunya memutuskan untuk mengajarnya sendiri di rumah. Edison berprinsip “satu persen inspirasi, dan sembilan puluh sembilan persen kerja keras”. Ketika Edison berhasil menemukan bola lampu, dia telah melakukan eksperimen sebanyak 2000 kali sebelum lampu itu bisa menyala. Seorang reporter pernah bertanya, bagaimana rasanya mengalami kegagalan sebanyak itu. Edison menjawab, “Saya tidak pernah gagal, hanya saja butuh proses penemuan sebanyak 2000 kali”. Soichiro Honda Sangay membenci sekolah dasar dan sering membolos. Honda mulai relajar otodidak lewat berbagai eksperimen. Lebih dari 470 penemuan dan 150 hak paten telah dibukukan honda. Namur saat tertentu Honda juga merasakan kehancuran bisnis akibat bencana alam dan kebakaran bahkan penolakan dari pemerintahan Jepang. Honda begitu sering gagal tapi tak pantang menyerah sehingga ia berfilosofi sukses tumbuh dari kegagalan.

Jadi, masalah gagal dan sukses hanyalah proses yang harus dilewati dan bisa jadi kita tidak merasakan sukses saat ini. Jika cukup sabar dan mau melakukannya lagi, percayalah kesuksesan itu akan datang. Tidak ada kerja keras yang sia-sia dan tidak ada pengorbanan tanpa hasil. Ketika kita berbuat sesuatu, menabur di ladang yang subur, insya Allah kita akan menuai nanti.

Tawakal

Tawakal itu letaknya dalam hati, yaitu sebuah keyakinan bahwa keputusan Allah adalah keputusan yang terbaik bagi hamba-Nya. Akan tetapi tidak cukup dengan itu saja, melainkan harus diiringi dengan ikhtiar yang maksimal dan begitu juga sebaliknya.

Berbicara tentang tawakal, aku ingat sebuah cerita tentang seorang Baduwi yang meninggalkan untanya saat beristirahat di suatu tempat, tanpa mengikatkan talinya pada sebuah tiang. Singkat cerita, saat ia kembali untuk melanjutkan perjalanan, ternyata untanya tidak berada di tempat semula. Kontan saja ia panik setengah mati. Orang-orang sekitar mengerumuninya karena suara yang memekik memanggil unta yang kabur. “Untaku… untaku…!

Ke mana untaku…?”Sambil mencari ke sana-sini, ia meyakinkan dirinya bahwa terakhir kali ia melihat untanya di halaman bersama unta-unta lainnya. Ia yakin bahwa ia telah mempercayakan untanya pada Allah. Ia yakin untanya tak akan kabur karena Allah yang akan menjaganya. Oleh karena itu, ia tidak berusaha untuk mengikatkan talinya pada tiang yang telah tersedia sebab ia merasa telah menyerahkan segalanya pada Allah SWT. Atau lebih dikenal dengan

Istilah tawakal.

Apakah sikap tawakal orang Baduwi seperti itu benar? Keyakinan kuat tanpa diiringi ikhtiar adalah kurang sempurna. Demikian pula ikhtiar maksimal tanpa keyakinan hati kepada Allah adalah sia-sia. Tawakal yang benar adalah didasari oleh keyakinan kepada Allah bahwa Allah-lah yang mengatur segalanya dan disempurnakan dengan ikhtiar maksimal. “Allah yang mengatur rezeki. Maka manusia harus berusaha untuk mendapatkannya dengan cara yang benar. Semua nikmat yang telah Allah berikan harus disyukuri dan hanya kepada-Nya orang-orang beriman bertawakal” (Q.S. Al-Maaidah [5 ]: 11).

Adanya kemampuan untuk ikhtiar, merupakan nikmat besar yang telah Allah berikan. Sesungguhnya, Allah telah menetapkan ketentuan untuk segalanya. Allah tidak akan menguji seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Salah satu tanda kemuliaan seseorang adalah adanya keikhlasan dalam melakukan sesuatu, dan diwujudkan dengan ikhtiar. Selanjutnya, ia menyerahkan segala usaha dan urusannya dengan bertawakal kepada Allah.

Optimis pada keputusan Allah

Sukses atau gagal adalah pilihan. Anda memilih mana, semuanya tergantung pada anda. Itulah yang menguatkan aku, bagiku hidup adalah sebuah pilihan. Ketika “sukses” adalah pilihan kita maka perjuangkanlah dengan jalan yang benar. Insya Allah sukses itu akan kita raih walaupun kadang butuh waktu. Bagiku, orang yang sukses sejati adalah orang yang terus-menerus membersihkan hati dalam mempersembahkan pengabdian terbaiknya bukan hanya untuk dunia saja tapi akhirat juga.

Seperti yang kita ketahui pada peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim AS. untuk melaksanakan perintah Allah SWT menyembelih putranya tercinta Ismail adalah potret sejati seorang mu’min yang mempunyai kekuatan tawakal dan kepercayaan yang amat tinggi terhadap keputusan dan kekuatan pencipta-Nya. Itulah harapan dari ajaran Islam agar manusia yang beriman selalu bisa menempatkan possitive thinking kepada Allah SWT di dalam diri dan optimis dalam melaksanakan perintah ajaran-Nya.

Keyakinan akan hal ini dalam pandangan Islam dikenal sebagai rasa tawakal. Semakin kuat kepercayaan ini, maka akan mempertebal sikap tawakal, dan akhirnya rasa optimis dalam diri semakin bertambah. Optimis memang berawal dari rasa tawakal kita. Rasa optimis haruslah mengalahkan pesimis yang bisa jadi menyelinap dalam hati. Untuk itulah jika ingin hidup sukses, kita harus bisa membangun rasa optimis dalam diri. Optimis yang dihasilkan dari rasa tawakal inilah yang menjadikan Rasulullah SAW beserta sahabat mampu memenangkan peperangan yang tercatat dalam sejarah dunia mulai dari perang Badar hingga peperangan di masa kekhalifan Islam sampai berabad-abad lamanya.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: